AGENT OF CHANGE!(?)

Mahasiswa adalah agent of change (katanya), insan akademis yang menyatakan dirinya siap dan harus menjadi bagian dari perubahan yang diimpikan. Semangat belajar dan menjalani kesibukan di luar kampus terus membara karena mungkin itu menjadi sebuah keharusan demi mendapatkan beasiswa atau lembaran sertifikat yang dibubuhi tanda tangan serta cap karena itu katanya akan menentukan dan menjadi syarat sidang skripsi di hari mendatang. Tak sedikit yang ingin menutupi kemagerannya karena malu (takut ada yang bilang, masa iya mahasiswa males-malesan), takut dibilang mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) dan akhirnya terpaksa menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan BEM ataupun UKM. Mungkin juga karena sebuah alasan akademis yakni, “pengaplikasian materi di perkuliahan” atau “mengembangkan kemampuan public speaking”  yang memang dirasa perlu dan harus dijalankannya. Atau mungkin mencari relasi dan berharap untuk bertemu dengan orang-orang hebat di dalamnya dimana pertemuan ini bisa berujung pada lowongan pekerjaan yang mungkin menjanjikan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan pula karena ada si “dia” yang membuat kita terperdaya dan mengikuti setiap jejak langkahnya. Karena alasan semua itu kita menjadi agent of change? Lantas di saat beasiswa dan sertifikat telah di dapatkan dan akhirnya bisa lulus menjadi seorang sarjana masihkah kita mau menjadi agent of change? Atau ketika sudah tidak menjadi mahasiswa lagi dan tidak khawatir serta malu di bilang mager masihkah kita mau menjadi agent of change? Atau ketika materi telah habis dan tidak ada lagi yang bisa diaplikasikan, serta kemampuan public speaking kita telah mumpuni, masihkah kita mau menjadi agent of change? Atau ketika jaringan kita sudah meluas dan terkenal dimana-mana, yang berujung pada tawaran kerja yang menjanjikan, masihkah kita mau menjadi agent of change? Atau ketika si “dia” telah kita dapatkan dan kita miliki untuk seumur hidup kita, masihkah kita mau menjadi agent of change? Masihkah? Entahlah, mungkin ini hanya prasangka buruk yang berlebihan, mungkin masih banyak mahasiswa dengan motif lain yang barangkali lebih tulus dan ikhlas menyatakan dirinya sebagai agent of change.
Pertanyaannya adalah setelah kita mendapatkan yang kita inginkan dan selesai di dalam bangku perkuliahan, masihkah kita siap dan semangat untuk menyatakan diri harus menjadi agen perubahan yang selalu mengabdi kepada masyarakat? Atau malah justru kita terlena dengan upah pekerjaan, tunjangan PNS, ataupun sertifikasi guru yang membuat kita terperdaya dan lupa bahwa banyak masyarakat yang membutuhkan kita?
Lantas apa hubungan semua ini dengan peran mahasiswa dalam pendidikan di Indonesia? Coba pikirkan sejenak, hari ini kita menyatakan diri dan siap untuk tidak di gaji dengan mengikuti berbagai aktivitas kerelawanan (berbasis pendidikan) di suatu organisasi. Kita dengan “tulus” dan “ikhlas” mengajari anak-anak dan lain sebagainya. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah “ketulusan” dan kerelawanan masih bisa dipertahankan setelah kita lulus nanti? Lagi dan lagi entahlah. Ya mungkin sebagian dari kita berfikir, “toh nanti juga kan ada mahasiswa di generasi selanjutnya yang akan menggantikan kita, jadi ngapain repot harus selalu terus mengabdi kepada masyarakat?” Yap betul, maka tidak heran banyak kasus penyelewengan terkait pendidikan baik itu kualitas guru yang kurang mumpuni, atau yang lebih parah menggerogoti dana pendidikan untuk kepentingan pribadi. Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka dulu saat menjadi mahasiswa menyatakan diri untuk siap menjadi bagian dari perubahan yang menjadi impian, tapi pada kenyataannya semangat itu kandas ketika keluar dari bangku perkuliahan.
Peran mahasiswa sebagai agent of change untuk merubah wajah pendidikan di Indonesia bukan hanya sekedar untuk mendapatkan beasiswa, sertifikat, relasi dengan orang hebat, meningkatkan kemampuan public speaking, takut di bilang mahasiswa kupu-kupu, ataupun karena ada si “dia”. Mengapa? Karena ketika semua itu telah kita dapatkan, kemungkinan yang terjadi adalah hilang semua semangat kita sebagai agen perubahan yang senantiasa mengabdi dan bermanfaat kepada masyarakat. Pelurusan niat dan tujuan menjadi penting, menjadi agen perubahan diawali di bangku perkuliahan tapi tidak berarti harus berakhir ketika perkuliahan selesai. Semangat pengabdian dan perubahan harus menjadi kebiasaan yang didapatkan dan diawali ketika kita menjadi mahasiswa, sehingga di saat kita menjadi bagian dari masyarakat yang sesungguhnya kita telah terbiasa untuk bisa bermanfaat bagi orang banyak. Terlebih di dalam FIP adalah calon bapak dan ibu guru, mengajar yang dilandasi kepada semangat pengabdian akan membuahkan ketulusan dan keikhlasan sehingga akan muncul bibit (dari hasil didikan) yang tidak hanya berkualitas secara akademik, akan tetapi yang lebih penting yakni kualitas moral pun akan terbentuk. Setiap tahun lulusan sarjanan pendidikan mencapai 100.000 orang (Harian Kompas 2015). Sudah cukup banyak lulusan pendidikan, akan tetapi jumlahnya tidak berbanding lurus dengan perubahan wajah pendidikan yang bisa diharapkan (bahkan lebih parah).Gaji receh yang tidak seberapa bukan landasan kita untuk mengajar, tapi kebahagiaan murid kitalah yang menjadi tujuan. Maka mulai dari hari ini luruskanlah niat, sekalipun kita mendapatkan beasiswa, sertifikat, relasi, upah, si “dia”, dlsb itu hanyalah bonus dari semangat pengabdian yang kita miliki dan tidak seharusnya dijadikan tujuan utama.
Saya tahu sebenarnya peran mahasiswa tidak hanya sebagai agent of change, akan tetapi ada social control, dan juga iron stock. Ketiganya sering diucapkan ataupun didengarkan (terlebih agent of change), akan tetapi yang sering dilupakan dan sulit dijalankan adalah peran iron stock, dimana kita melakukan semua ini untuk mempersiapkan diri di masa mendatang, bukan hanya saat kita menjadi mahasiswa saja. Sebelum berbicara jauh tentang peran apa saja yang harus atau telah kita lakukan untuk pendidikan Indonesia (dalam cakupan luas), cobalah untuk refleksi dalam rangka untuk mendidik dan membenahi diri. Ketiga peran mahasiswa yang biasa disampaikan setiap kali ospek bukanlah suatu produk yang mengiming-imingi keuntungan “profit” dan “benefit” yang bersifat instan, akan tetapi harus lebih dari itu. Menjadi mahasiswa adalah langkah awal untuk menyiapkan diri kita di kemudian hari agar bisa bermanfaat kelak untuk orang banyak. Saat menjadi mahasiswa bisa bermanfaat, dan saat  bermasyarakat harus bisa lebih bermanfaat.

Nama   : Muhammad Sidqi Hammam
NIM    : 1107617081
Prodi    : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Comments